Jumat, 20 Juli 2012

Brand Indonesia Go Internasional : CROOZ cloth

CROOZ CLOTH


Didirikan pada tahun 2003 oleh Max dan Ariana yang memiliki kecintaan yang besar terhadap fashion dan musik, dengan ethos DIY ( do it yourself ) mereka mulai membuat apparel yg awalnya hanya dijual kepada teman teman dekat saja, karena kualitas produk yg mereka buat saat itu dirasakan “berbeda” produk CROOZ menjadi sering dipesan oleh orang orang lain juga. Seiring berjalannya waktu Brand crooz sudah mulai dikenal orang meskipun tidak banyak. Pada tahun 2005 akhirnya mereka memutuskan untuk membuat concept outlet sebuah konsep toko yang belum populer pada saat itu. Berisikan produk apparel, rilisan CD dan merchandise band lokal berkualitas toko CROOZ mulai dikenal di Jakarta sebagai tempat utk mencari barang barang “indie” yang jarang ditemui di tempat tempat lain.

Sebagai brand urban dengan konsep cutting edge CROOZ memiliki konsumen tersendiri, tidak banyak namun sangat loyal dan bangga disebabkan adanya hubungan komunikasi yang terjaga antara CROOZ dan konsumen secara tidak langsung menjadi mutualisme dimana konsumen membutuhkan sesuatu yang bisa mereprentasikan konsep cutting edge dan CROOZ hadir sebagai produsen yang tetap setia pada jalurnya. konsep ini juga diaplikasikan oleh CROOZ di beberapa negara di asia tenggara, terbukti brand CROOZ pada tahun 2011 ini sudah memiliki cabang di negara negara tetangga seperti Malaysia, Singapore dan Philippina.

CROOZ juga sebagai salah satu konseptor dan penggerak acara acara independen di Jakarta yang melibatkan band band “tidak biasa” sebut saja CFD FEST ( acara yang digelar oleh crooz setiap tahun ) yang sekarang menjadi semakin besar dan diisi band band terkenal dari dalam maupun luar negeri. CROOZxMACBETH Indonesian tour, mengambil bagian di beberapa kota besar di indonesia yang ternyata memiliki respon yang sangat baik dari anak anak muda di kota kota tersebut.

Selain sebagai toko dan brand, CROOZ juga dikenal sebagai rumah bagi band band indie di Jakarta tercatat band band seperti The Upstairs, Siksa Kubur, Karon N Roll, Peewee Gaskins, Sweet As Revenge, Thirteen dan lain lain mempercayakan Crooz sebagai produsen dan distributor agar penggemar dapat lebih mudah mendapatkan merchandise mereka karena Merk CFD (Crooz Fashion Distortion) sekarang dikenal oleh para penggemar band sebagai merk utk merchandise band band kesayangan mereka.

Inilah Kumpulan kumpulan Foto-Foto Toko Crooz dari awal sampai saat ini :


-- DISTRO CROOZ pertama :





-- DISTRO CROOZ kedua :




-- DISTRO CROOZ ketiga :


 
Crooz. Brand yang satu ini memang patut masuk dalam salah satu produk lokal yang mumpuni. Kurang lebih empat tahun belakangan, namanya terus meroket hingga akhirnya menempatkan clothing line yang satu ini dalam sebuah posisi menjadi brand ternama di industri lokal.
Musik menjadi salah satu inpirasi yang kuat dari brand ini. Sejak kemunculannya pada tahun 2003, panggung musik dan komunitas di dalamnya adalah dua hal yang menjadi konsep dari Crooz sendiri. Dan semuanya terlahir dari sosok yang akrab disapa Max. Kesenangannya dalam dunia musik dan hobi mengkoleksi kaos band nagri menjadi penggerak utama dari apa yang dihasilkannya sekarang ini.

“Gue menggerakan Crooz ini memang berawal dari hobi. Gue doyan ngumpulin kaos band dan masih tergabung di band Sweet As Revenge. Lama menjalani aktifitas itu ujungnya gue sadar kalo order kaos nagri hanya menghabiskan uang dan nggak banyak berarti. Modal nekat gue bikin kaos band gue sendiri dan nggak taunya laku,” papar Max kepada Hai.
Kerja keras yang dilakoninya akhirnya berbuah manis. Kini Crooz telah berkembang pesat menjadi salah satu produk lokal di antara produk lokal kenamaan lainnya. Nggak hanya di Jakarta, nama Crooz juga telah merambah nasional dan menarik minat mereka di daerah lain yang berujung dengan distribusi yang semakin meluas pula. Selain bermarkas di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan, outlet resmi Crooz juga telah resmi merambah dua kota Bandung dan Malang.

Crooz terlahir dari musik. Kegemaran akan musik dari Max membuat Crooz terus berkembang mengikuti arah musik dan komunitasnya. Satu per satu band didukungnya dan secara nggak langsung Crooz menjadi wadah bagi komunitas musik baik pelaku dan juga pendengarnya.
Hal tersebut memang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Max sendiri. sejak awal bergerak di tahun 2003 lalu, Max memang ingin membentuk sebuah simbiosis mutualisme antara brand dan juga band yang ada.

“Dari banyak panggung musik yang gue jalani, faktanya banyak band lokal yang memang nggak kalah bagus dari luar negeri. Ada potensi yang mereka miliki untuk berkembang dan gue mau Crooz ada di dalam sana. Akhirnya gue membantu memproduksi membuat merchandise untuk mereka dan sebaliknya mereka pun membantu mempromosikannya. Intinya sih saling support,” jelas Max.
Cukup banyak band yang kini dikenal khalayak luas yang pada awalnya berjalan bersama dengan Crooz. Sebut saja seperti Pee Wee Gaskins, Vierra hingga Last Child. Bentuk support dari Crooz nggak hanya itu saja. Di sisi lain banyak hal yang telah digerakan beberapa di antaranya seperti mensuppot panggung komunitas musik, membuat beragam gathering, menggelar tur beberapa kota dan hingga kini membawa musik-musik dari band yang digalanginya untuk timbul di permukaan blantika musik Indonesia hingga mendapatkan sebuah pengakuan tersendiri untuk mereka. Hasilnya malah lebih dari yang dibayangkan. Dengan sendirinya akhirnya Crooz mempunyai komunitasnya sendiri.

“Gue nggak mencoba membentuk komunitas, tetapi mereka ada dengan sendirinya. Ketika mereka terbentuk maka gue hanya mencoba mewadahi mereka. Di Crooz mereka bisa berinteraksi dengan band yang mereka suka dan berinteraksi langsung,” celetuk Max.
Nggak sampai di situ saja, belakangan ini Max cs akhirnya juga menggerakan band-band yang disupportnya untuk lebih didengar di nagri dan terfokus di Asia Tenggara. Malaysia dan Filipina menjadi dua negara yang sukses dirambah oleh Crooz. Nggak hanya soal distribusi barang, tetapi juga band yang mereka gandeng. 

Yap, semuanya bukan soal keuntungan semata, tetapi bagaimana cara kita melihat Crooz menjadi sebuah pergerakan dahsyat yang pada mulanya hanya sebuah passion musik dan kreatif di sekitarnya. Semoga saja dengan apa yang telah diraih Max sejauh ini akan terus menjadi sebuah brand yang terus mensupport band lokal demi kemajuan industri kreatif tanah Air.
 
 
 
 

alamat DISTRO nya :

-- Crooz Jakarta: (Jl Pln Duren Tiga Raya No 37 Jaksel) +62217980516
-- Bandung: (Jl. Tirtayasa No.24 Bandung +6222-4260783) (Belakang Total Buah) 
-- Malang: (Jl Telomoyo No 18 Malang +6285859325832)
-- Jalan PLN Duren Tiga Raya No 37 Pancoran Jakarta Selatan 12760 No telp 0217980516 

Jumat, 06 Juli 2012

Brand Indonesia Go Internasional : PeterSaysDenim



* buffer sebentar deh,wawacara inspiratif bareng peter firmansyah ===================================================================
 udah pada liat video diatas kan? sekarang adhit mao ngasih cerita inspiratif nih buat para pemuda supaya mencintai produk dalam negeri. 

“Brand yang keren itu pasti laku, tapi kalo brand itu laku belum tentu keren”



Peter Firmansyah, (Peter Says Denim)

Pernyataan itu diungkapkan Peter Firmansyah, pendiri sekaligus
pemilik Peter Says Denim (PSD), di tengah pembicaraan mengenai
arti sebuah brand baginya. Dan sikap itu jugalah yang diambil Peter
untuk mengembangkan usahanya, dia tidak ingin PSD menjadi
sebuah brand yang sekedar laku di pasaran.
PSD adalah sebuah brand celana jeans asal Bandung yang
fenomenal. Sejak awal meluncurkan produknya pada tahun 2008, PSD langsung dapat menembus pasar mancanegara. Hal itu dilakukan Peter dengan cara mengawinkan fesyen dan musik. Dengan singkat Peter menjabarkan brand PSD sebagai sebuah 'brand denim rock'. Pasalnya PSD banyak meng-endorse band-band internasional maupun lokal beraliran rock. Misalnya saja Silverstein
dari Kanada, August Burns Red dari Amerika, Not Called Jinx dari Jerman, dan masih banyak lagi.
Sementara itu ada juga Superman Is Dead, St. Loco, Rocket Rockers, serta sederet band asal
Indonesia lainnya.
Karena itu juga, merek PSD seringkali disandingkan dengan merek-merek kelas dunia seperti
Gibson, Fender, Peavey, Volcom, Macbeth dan lain-lain sebagai sponsor dalam event-event musik.
Tapi kesuksesan yang dicapai PSD saat ini tidak cepat membuat Peter puas. Baginya perjalanan
PSD masih panjang, dan masih belum ada apa-apanya untuk menjadi salah satu brand jeans dunia.



 Ada dan 'Nendang!'

Kelahiran PSD sebagai kolaborasi antara fesyen dan musik memang tidak bisa dilepaskan dari
kiprah Peter sebagai seorang musisi. Pada tahun 2005 dia membentuk sebuah band yang bernama
Peter Say Sorry. Darisana perpaduan antara fesyen dan musik pertama kali muncul, ketika itu Peter
mulai merancang sendiri jeans untuk bandnya.
“Kenapa jeans karena gua suka jeans, dan gua juga tau tentang jeans (produksinya). Karena dulu gua 'main' di konveksi. Sama juga, kenapa musik karena gua suka musik, dan gua juga tau tentang musik” terang Peter. Sebelum akhirnya membuat brand PSD, Peter lebih dulu membuat jeans untuk orang lain, sebagai vendor untuk berbagai merek jeans.
Hal itu membuat Peter semakin paham mengenai seluk beluk produksi jeans. Tapi
sebenarnya, dari tahun 2005 hingga 2008 itu Peter sudah mulai merintis ide untuk membuat jeans dengan brand-nya sendiri. Pemikiran untuk go international memang
sudah menjadi tujuan Peter sejak meluncurkan PSD. Menurutnya untuk menggarap pasar lokal justru sulit pada masa itu, karena ketika itu industri pakaian tengah maju pesat. Distro, produksi pakaian lokal, khususnya di Bandung sedang marak dimana-mana. Untuk itu dia
menginginkan sesuatu yang berbeda, dan optimis saja jika usahanya akan berhasil.
“Waktu itu belum ada yang berani memasarkan produknya ke luar negeri”
ungkapnya.
Dengan konsep online store, pasar luar negeri
terutama Amerika dan Kanada dapat menerima produk-produk PSD. Dampaknya tidak hanya pada
penjualan saja tapi justru lebih dari itu, menurut Peter orang-orang jadi terbuka matanya terhadap
Indonesia.
“Mereka bilang 'Oh Indonesia hebat bisa buat yang kaya gini'. Mereka jadi tau kalau di Indonesia juga
kita bisa buat yang kaya gini (celana jeans). Di kita (Indonesia) gak harus banyak lagi, (karena) kalau
di Cina kan harus partai besar” papar Peter.
Untuk distribusi di kawasan Amerika bagian utara itu PSD kini bahkan memiliki kantor sendiri di
Kanada. Sementara di Bandung, di kawasan Cigadung, PSD memiliki kantor dengan 15 orang
pegawai. Disana Peter menunjukan salah satu slogan PSD, yaitu “Alive and Kickin”
“Maksudnya kita bakal selalu ada, dan kita bakal selalu 'nendang!'” jelasnya.
Dan darisana Peter melakukan dua “tendangan” sekaligus. “Tendangan” pertama menyadarkan
pelaku industri kreatif dalam negeri karena bisa diterima di mancanegara. Sedangkan “tendangan”
yang kedua adalah membuka mata dunia tentang potensi industri yang dimiliki Indonesia.

Kamis, 05 Juli 2012

Tanda-tanda Naksir Sahabat

Cinta emang misterius, sama kayak Jelangkung: datang tak dijemput pulang tak diantar. Kalo dipikir-pikir enak juga ya pacaran ama jelangkung? Gak ngerepotin dia mah anaknya (jadi horor!). Oke, jangan ngelantur. Mungkin bener apa yang orang Arab bilang: witing tresno jalaran soko kulino. Yang artinya, cinta dateng karena terbiasa. Biasa sama sahabat, ya naksir sama sahabat. Biasa bawa delman, ya naksir sama kuda. Kalo gitu, apa sih tanda-tanda kita naksir sahabat?

1. Lebih merhatiin penampilan

Kamu yang biasanya dekil kayak duit kembalian beli mecin, jadi lebih klimis. Klimis bukan dalam arti kliatan miskin, tapi dalam arti sesungguhnya. Rambut dipakein gel, pake kemeja putih, celana bahan item, sepatu pantofel, plus nenteng-nenteng nampan. (ini waiter apa gimana?)

Spoiler for penampilan:


2. Jaga omongan

Kata-kata kasar dikurangin. Udah nggak pernah lagi ngatain orang, “GOBLOK, LU!”. Perkataan dan omongannya jadi halus. Soalnya sebelum ngomong kata-katanya ditumbuk dulu. (rujak bebek kali, ah!)

Spoiler for kata:


3. Sopan

Yang biasanya kalo lagi becanda suka toyor-toyoran, udah nggak lagi. Diganti jadi puk-puk kepala. Yang biasanya kalo ngomong tereak-tereak, jadi dipelanin. Saking pelannya sampe-sampe kelelawar doang yang bisa denger.

Spoiler for sopan:


4. Posesif

Semua orang dicemburuin, sampe ke tukang parkir.

“Bales kiriiii, oke..luruuuusss…kanan dikit, op. Cakep”
“Kok, lo mau aja sih disuruh-suruh tukang parkir? Pacar bukan, sodara bukan!” (ketus)

Spoiler for posesif:


5. Religius

Mendekatkan diri pada Tuhan berharap doanya cepet dikabulin.

“Ya Tuhan, kalo dia emang jodohku, dekatkanlah. Kalo dia bukan jodohku….YAKALI DAH BUKAN! Tuhan becanda, nih!” (mulai sarap)

Spoiler for religi: